polmankab.go.id


DESKRIPSI LAMBANG KABUPATEN POLEWALI MANDAR



    Dasar Lambang

Perisai berbentuk  segi lima datar  yang secara simbolik melambangkan pertahanan yang kokoh dan kuat,  seimbang dan senerjik  antara dua unsur yaitu unsur jasmanaiah dan unsur rohaniah. Dengan kesatuan dua unsur tersebut memberi makna yang penting dalam budaya kemandaran yaitu bersatunya alang mallinrung (kerohanian) dan alang maqnyata (jasmaniah).

    Latar belakang

Latar belakang logo ini beralaskan corak sarung sutra mandar  ( Sureq Pangulu/Salaka)  adalah salah satu  sureq sarung sutra mandar yang sarat dengan makna yang luhur  yang harus dimiliki dan dipakai  dalam berbagai upacara adat bagi Maraqdia dan Hadat di tanah Mandar.

Sureq Pangulu adalah salah satu corak khas sarung sutra mandar yang sangat terkenal diantara corak sarung sutera di Indonesia,   bahkan mempunyai corak khusus yang melambangkan kebudayaan yang tinggi dari orang mandar. Hal tersebut dapat digali dari sejarah sarung yang bermula dari corak pagar yaitu garis silang kecil kecil yang mulanya dilukiskan dalam gerabah dari kebudayaan Kalumpang (Mamuju) sekitar 1500 SM.

Corak  khas (Sureq)  sarung sutra mandar tersebut  telah diperdagankan diseluruh Indonesia  dan lebih terkenal diperdagankan di Padang Pariaman Sumatera Barat. Sebagaimana dalam kisah diceritakan bahwa Todilaling sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dari kerajaan Gowa dapat mengalahkan kerajaan Pariaman sekitar abad 14 M. Kearifan kepemimpinan dan pengayoman yang diperlihatkan disaat negeri tersebut dikuasai oleh pasukan Todilaling memberi kesan bahwa Todilaling adalah  seorang pemimpin yang berwibawa,  dihormati  damn dikagumi  bagi orang orang Pariaman.

Sewaktu Todilaling  akan meninggalkan Padang ia meninggalkan sarung Mandarnya sebagai simbol ikatan emosional anatara Todilaling dengan rakyat Padang Pariaman. Sarung tersebut  akhirnya dijadikan sebagai sarung yang bermakna bagi pemimpin  pemimpin didaerah tersebut, sehingga sampai saat ini pada setiap upacara upacara adat resmi di Minangkabau, sarung sutra mandar menjadi bagian  pelengkap yang harus dipakai dan dimiliki seorang Bangsawan.

Kehadiran Todilaling dengan sarungnya sebagai simbol persaudaran dikukuhkan dengan penananam sebuah batu besar di Bukit Pariaman yang disebut Batu Manda.

    Makna warna kuning dalam berbagai simbol

Warna kuning dalam budaya mandar  melambangkan keutamaan dalam sifat sifat berharkat dan bermartabat (malaqbi). Makna ini dapat ditemukan dalam budaya mandar yang diungkapkan diberbagai lontar yaitu : ”pelindo lindo maririo nanacanringo’o paqbanua”  (anda diharuskan memiliki sifat yang berharkat dan bermartabat agar dicintai  oleh rakyat) Denikian juga terdapat dalam lagu lagu mandar salah satunya berbunyi ” annaqTama dibuaro sau ditangnga saupaqnala lindo mariri”

        Bintang

Bintang yang terletak di atas baju pasangan adalah simbol dari :

            Ketuhan Yang Maha Esa
            Kelima Sudutnya perlambang Lima Unsur nilai budaya tertinggi dalam Pancasila
            Bintang dalam Budaya Mandar merupakan Suatu tanda bagi para pelaut dalam menentukan suatu tujuan Akhir, bintang sangat memberi nuansa ilmu pengetahuan bahari yang terdapat dalam ” Paissangang  Aposasiang”   ( Ilmu yang berkaitan tentang
        Rangkaian Padi dan Bunga Kelapa (mayang/burere)

Rangkaian  Padi yang padat - berisi dan berwarna kuning keemasan melambangkan usaha menuju kemakmuran pangan. Posisinya yang melengkung mencerminkan sifat Malaqbiq  ( mulia ) dan rendah hati (tawadhu) sebagai sumber kekuatan, inspirasi, sekaligus pedoman dalam berpemerintahan dan bermasyarakat. Adapun Mayang Kelapa berwarna kuning keemasan menggambarkan kekayaan sumber daya alam Polewali Mandar. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi ini dapat mendinamiskan kegiatan ekonomi dan meeningkatkan PAD.  Mayang Kelapa ini terdiri dari : bakal kelapa ( Kalanjo )  berjumlah 17, tangkai bunga kelapa ( burewe ) berjumlah 8, helai daun kelapa dan daun padi berjumlah 4 dan 5 menyesuaikan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 - 8 - 1945. Adapun sebuah mayang kelapa ( lopi - lopi ) menyiratkan bahwa wilayah Kabupaten Polewali Mandar berada dan setia pada kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Simbolisasi rangkaian bulir padi ini sebagai usulan momentum hari jadi Polewali mandar tepatnya tanggal 17 Agustus 2005.

    Baju Pasangang

Sebagai  latar belakang dari simbol Laut, Ombak, Sandeq, Burung dan Gunung. Dalam budaya Mandar baju ini hanya dipakai oleh seorang  Perempuan yang telah dewasa ini melambangkan sebuah kepribadian yang tanagguh, mandiri, bertanggung jawab, dan siap menjaga Siri   dan Lokkoq  bagi keluarganya. Disamping itu baju pasangan ini berarti simbol keteguhan dan kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga yang bermakna ” Sibali Parriq ”  bagi kelangsungan hidup keluarga yang sangat di hayati dalam makna budaya mandar sampai kini.

Baju pasangan atau baju ”boko” dalam masyarakat mandar biasanya dipakai oleh wanita dewasa, dimana wanita dalam keluarga juga turut menunjang kehidupan keluarga dalam makna ”Sibali Parriq”.

    Ibis Mandar Celebes

Ibis  Mandar yang sedang terbang, nama ilmiah burung ini adalah Aramedopsis Platenis,  nama inggerisnya adalah Celebes Reis  dan nama indonesianya adalah Burung Mandar Sulawesi. Burung  ini adalah jenis satwa yang khusus yang khas yang dilindungi oleh dunia ( World herritage ) oleh salah satu unit perlindungan satwa langka dari PBB. Burung ini hanya terdapat di Polewali Mandar dalam cagar alam Mampie - lampoko yang oleh rakyat setempat dikenal derngan nama ”Titiq Balang ”  Jenis satwa ini bermakna keunggulan, Solidaritas, dengan kehidupan berkelompok ( saling menyayangi ).

    Gunung Hijau

Gunung Hijau yakni Gunung ” Tammeundur ”   5 (lima) puncak lainnya adalah bukit bukit Tammeundur yang melebar sampai ke Kecamatan Tutallu, Kec. Tinambung, Kec. Campalagian, Kec. Wonomulyo, dan Polewali inilah kecamatan awal pembentuk  Polewali Mamasa. Di gunung ini berisi berbagai sumber daya alam ( jenis mineral dan minyak dll ) Di seputar gunung ini terdapat hutan yang bermakna berbagai tanaman tanaman komoditi dan kayu serta komoditas eksport jenis kakao, kelapa dan lain lain. Darinya juga mengalir hulu hulu sungai yang mengairi hamparan sawah yang meberi makna bahwa Kabupaten Polewali Mandaradalah salah satu lumbung beras di Indonesia.

    Sandeq

Di Puncak  sandeq terdapat Bendera merah putih yang berarti Kab. Polewali Mandar adalah pendukung kokoh tegaknya  Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelum dan sesudah Proklamasi 1945 dimana di kabupaten ini berdiri sebuah laskar perlawanan rakyat yang konsisten di sebut Laskar Krismuda Mandar   dibawah pimpinan seorang mahaputra haji Andi Depu, salah seorang pahlawan Nasional. Akar jiwa dari kepahlawanan orang orang Polewali Mandar terus dikenang oleh rakyatnya diantaranya, Ammana Iwewang dan Ammana Ipattolawali, Tokape dan lain lain. Jenis Perahu Sandeq yang bergerak secara dinamis yang digambarkan merupakan jenis perahu dalam budaya Austris yang digunakan oleh orang orang asia tenggara untuk berpindah dari daratan asia tenggara sampai pulau pulau Melanesia  Austronesia di kawasan pasifik juga sampai ke Madagaskar di sebelah timur Afrika. Jenis perahu ini telah digunakan sejak 1500 SM dan dia mempunyai kekhasan dalam berlayar, lincah di atas ombak dan tetap melaju bila ia diterpa angin dari manapun arahnya.

Perahu Sandeq yang berwarna putih, adalah warna khas kemandaran yang bearti putih bersih siap terbuka untuk menghadapi perubahan yang terpatri dalam ungkapan budaya mandar yang berbunyi ” Ibannang pute meloq dicinggaq meloq dilango lango ”

    Gelombang yang berjumlah 15 lekuk

Hal ini berarti bahwa dalam perjalanan mengarungi lautan kehidupan, sandeq tetap jaya dalam tantangan, dan 15 lekukan tersebut adalah 15 kecamatan yang ada dalam wilayah Kabupaten Polewali Mandar.

    Pita Merah dengan Warna Tulisan Putih

Pita merah dengan  tulisan Sipamandaq berwarna putih  melambangkan tekad dan slogan dari isi perjajiian allamungan batu di Luyo yang berarti saling menguatkan,

    Allamungan batu di Luyo (Batu Luyo)

Batu Luyo tersebut tergambar di belakang dua daun dan tiga bunga melati ( beruq beruq)

    Bunga Melati

Tiga kuntum melati putih bermakna tiga pilar yang kokoh, bersatu bersinerjik dalam mengawal pembangunan Kabupaten Polewali Mandar yaitu :

            Unsur Pemerintah
            Unsur Masyarakat
            Unsur Swasta (Wirausaha)

Sedangkan dua daun  yang sepadan mempunyai makna masing masing dalam kebersamaan dan demokratis  serta keutuhan dan gotong royong sebagaimana terdapat dalam filsafat Mandar  berbunyi ” Anaqkodai Maraqdia Paqbanua Telopi ” yang berarti keutuhan yang seimbang dalam pemerintah dan rakyat dalam menata Polewali Mandar kedepan. Kesatuan Pemerintah dan Rakyat adalah mutlak adanya.